KEANEKARAGAMAN JENIS HERPETOFAUNA DI PINTU 2 KANAN KAMPUS IPB DARMAGA
Oleh :
Achmad Fajar P1 (E34120091), Maedyta Annafiandini2 (E34120061), Fitri
Kusriyanti3 (E34120075), Hidayatul
Munawaroh4 (E34120080),
dan Dian Widi Hasta5 (E34120081)
Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata-Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor
ABSTRACT
Research on the distribution and diversity of
herpetofauna in Bogor Agricultural University needs to be done. This relates to
developed of biodiversity conservation program in Bogor Agricultural
University. The objective of the research was to analyzed the distribution and
diversity of herpetofauna in Bogor Agricultural University. The study was
conducted in December 10th 2014. The data of herpetofauna were
collected by Visual Encounter Survey (VES) who combined with Time Search
method. Time of observation made in the night time (06.30 – 08.30 pm). Data
were analyzed using Shannon-Wiener Diversity Index (H’)
for species diversity and Index of Equitability or Evenness Simpsons (E) to
determine to proportion of the abundance species. The result showed that 6
species of herpetofauna were found in Bogor Agricultural University. The
Diversity Index was (H’= 1.641735), and Eveness Index was (E = 0.92). The most of species that found are Takydromus
sexlineatus.
Keywords : Bogor Agricultural University,
distribution, diversity, herpetofauna.
PENDAHULUAN
Satwa merupakan satu komponen
penting dalam kehidupan. Hal tersebut dapat terlihat dari manfaat yang
diberikan satwa secara langsung maupun tidak langsung. Kampus IPB memiliki
keanekaragaman satwaliar yang tinggi. Di areal kampus IPB paling tidak terdapat
12 jenis mamalia, 86 jenis burung, 37 jenis reptilia dan 4 jenis ikan (Hernowo et
al. 1991). Keanekaragaman
jenis adalah banyaknya spesies satwa yang menempati suatu ekosistem baik di
darat maupun di perairan yang saling mempengaruhi. Pengamatan satwa merupakan
bagian dari kegiatan untuk inventarisasi satwa. Inventarisasi satwa adalah
kegiatan untuk mengetahui populasi jenis satwa dan habitatnya. Metode yang
dapat digunakan dalam kegiatan inventarisasi satwa kali ini yaitu metode VES.
Metode Visual Encounter Survey (VES), yaitu pengambilan jenis
satwa berdasarkan penglihatan langsung pada jalur yang telah ditentukan (Heyer et
al. 1994). Tujuan dari pengamatan ini adalah agar dapat menerapkan
pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik inventarisasi dengan
menggunakan metode VES, untuk menentukan ukuran populasi satwa berdasarkan
metode tersebut serta dengan mempraktekkan metode tersebut diharapkan dapat
mengetahui keefektifan penerapan metode-metode tersebut dalam kegiatan inventarisasi
satwaliar.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu
Lokasi
pengamatan dilakukan di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Pengamatan dilakukan
pada tanggal 10 Desember 2014. Waktu pengamatan
dilakukan pada malam hari pukul 18.30 – 20.30 WIB.
Alat dan Bahan
Objek
yang diamati adalah berbagai jenis herpetofauna di Pintu
2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Alat-alat
yang digunakan pada pengamatan ini antara lain adalah tally sheet, alat tulis, plastik
spesimen, alat pengukur waktu, meteran, pesola, fieldguide, dan
kamera.
Metode
Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah Visual
Encounter Survey (VES) yaitu pengambilan jenis satwa berdasarkan perjumpaan
langsung pada jalur baik di daerah terrestrial maupun akuatik (Heyer et al. 1994). Metode VES ini
dimodifikasi dengan metode time search.
Pengamatan dilakukan selama dua jam. Time
search merupakan suatu metode pengambilan data dengan waktu penuh yang
lamanya waktu telah ditentukan sebelumnya dengan waktu untuk mencatat satwa
tidak dihitung. Pengamatan dilakukan di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga.
Pengamatan dilakukan pada malam hari pada pukul 18.30 – 20.30 WIB serta
dilakukan dengan berjalan pada lokasi yang telah ditentukan. Pengambilan data
herpetofauna dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
a.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada malam
hari pukul 18.30 – 20.30 WIB. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan
penerangan berupa cahaya senter atau headlamp
yang diarahkan pada lokasi – lokasi yang memungkinkan ditemukannya reptil
dan amfibi seperti di batang pohon, lubang, kayu lapuk, serasah, dan semak.
Individu yang diamati kemudian ditangkap dan dimasukkan dalam plastik berlabel.
Beberapa jenis reptil atau amfibi ditangkap untuk kebutuhan identifikasi dan
dicatat ciri – ciri morfologinya.
b.
Dokumentasi
dan identifikasi spesimen
Data yang dicatat pada saat pengamatan
reptil atau amfibi adalah waktu, substrat, posisi, dan aktivitasnya.
Dokumentasi berupa gambar diambil dengan kamera baik saat ditemukan ataupun
setelah diidentifikasi. Data yang dicatat saat identifikasi adalah nama jenis,
lokasi, dan informasi lain. Nama jenis dapat diketahui dengan menggunakan kunci
identifikasi dan bila belum ditemukan atau untuk meyakinkan foto – foto detail
reptil atau amfibi dicocokan kembali dengan fieldguide
(Uetz dkk. 2012).
Analisis Data
Komposisi reptil atau amfibi di
Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga dianalisis dengan dua parameter, yaitu :
1.
Keanekaragaman
Jenis
Jenis
yang ditemukan kemudian ditentukan Indeks Keanekaragaman Jenis dengan
menggunakan Indeks Shannon-Wiener (Brower & Zar 1997), yaitu :
H’ = -∑ Pi Ln Pi
Keterangan
:
H’
= Indeks Keanekaragaman Shannon- Wiener
P = Proporsi jenis ke-i (diperoleh dari jumlah
individu jenis ke-I dibagi jumlah seluruh individu yang diperoleh disuatu
lokasi)
Variabel
tersebut dapat digunakan dengan kriteria sebagai berikut :
H’ < 1 =
Menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang rendah.
1
< H’ < 3 = Menunjukkan
tingkat keanekaragaman jenis yang sedang.
H’
> 3 = Menunjukkan tingkat
keanekaragaman jenis yang tinggi.
Nilai
yang diperoleh kemudian akan digunakan untuk membandingkan keanekaragamn jenis
berdasarkan habitat.
2.
Kemerataan
Jenis.
Derajat
kemerataan jenis pada suatu lokasi dianalisis dengan Indeks Kemerataan Jenis.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung Indeks Kemerataan Jenis (Brower &
Zar 1997), yaitu :
E = H’/Ln S
Keterangan
:
E =
Indeks Kemerataan Jenis
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon- Wiener
S = Jumlah jenis yang ditemukan
HASIL
Komposisi
jenis, keanekaragaman, dan kemerataan jenis reptil dan amfibi
Berdasarkan hasil pengamatan,
ditemukan reptil sebanyak delapan ekor dan amfibi sebanyak tiga ekor. Jenis
reptil yang ditemukan yaitu, Cosymbotus platyurus (1 ekor), Brochocela jubata (2
ekor), Takydromus sexlineatus (4 ekor), dan Rhabdophis subminatus (1
ekor). Sedangkan untuk jenis amfibi yang ditemukan yaitu, Duttaphrynus
melanostictus (2 ekor) dan Phrynoidis aspera (1 ekor) (Gambar 1).

Gambar
1. Grafik rekapitulasi hasil inventarisasi herpetofauna di Pintu 2 Kanan Kampus
IPB Darmaga.
Hasil perhitungan indeks keanekaragaman
herpetofauna di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga dengan analisis Shannon-Wiener
didapatkan sebesar H’ = 1.641735 dan untuk
perhitungan indeks kemerataan Evenness didapatkan sebesar E = 0.92.
Masing – masing jenis reptil dan amfibi menyukai substrat
yang berbeda untuk melakukan aktivitasnya, Gambar 2. menunjukkan jenis substrat
yang banyak digunakan jenis reptil dan amfibi. Persentase terbesar yaitu pada
serasah sebesar 28%. Serasah dan tanah sering digunakan oleh jenis – jenis
reptil dan amfibi yang tergolong terrestrial. Persentase penggunaan substrat
terkecil yaitu pada tumbuhan bawah sebesar 9%.

Gambar 2. Grafik
perserntase penggunaan substrat oleh reptil dan amfibi pada saat perjumpaan.
Aktivitas
reptil dan amfibi pada perjumpaan yaitu terdiri dari diam, melompat, makan, dan
merayap. Aktivitas yang banyak terlihat adalah diam yaitu sebesar 55%.
Aktivitas diam ini banyak ditemukan pada jenis reptil seperti Takydromus sexlineatus dan Bronchocela jubata. Aktivitas paling
sedikit ditemukan adalah makan dan merayap yaitu sebesar 9%, hanya ditemukan
pada jenis reptil seperti Cosymbotus
platyurus dan Takydromus sexlineatus
(Gambar 3).

Gambar
3. Grafik persentase aktivitas herpetofauna pada saat perjumpaan.
Jenis Takydromus
sexlineatus menunjukkan nilai kelimpahan paling tinggi yaitu 0,3636 dengan
dominansi tertinggi 36,3636. (Tabel 1).
Tabel
1 Kelimpahan dan Dominansi jenis herpetofauna di Sisi Kanan Pintu II IPB.
PEMBAHASAN
Kondisi
Umum
No
|
Nama Jenis
|
Jumlah Individu
|
Pi
|
D (%)
|
1
|
Duttaphrynus melanostictus
|
2
|
0.181818
|
18.18182
|
2
|
Cosymbutus platyurus
|
1
|
0.090909
|
9.090909
|
3
|
Bronchocela jubata
|
2
|
0.181818
|
18.18182
|
4
|
Takydromus sexlineatus
|
4
|
0.363636
|
36.36364
|
5
|
Ular picung
|
1
|
0.090909
|
9.090909
|
6
|
Phrynoidis aspera
|
1
|
0.090909
|
9.090909
|
Total
|
11
|
Kampus IPB
Darmaga yang memiliki luas wilayah 267 Ha, terdapat beberapa jenis satwa liar
yang tersebar hampir di seluruh wilayah kampus, di antaranya dari jenis – jenis
burung, mamalia, reptil, dan amfibi. Kampus IPB saat ini sedang berada dalam
tahap pembangunan dan pengembangan, terutama terhadap sarana fisiknya. Kegiatan
tersebut akan menimbulkan perubahan lingkungan fisik maupun biotik. Menurut Hernowo
(1985), perubahan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberadaan dan
kelangsungan hidup satwa liar yang terdapat di Kampus IPB. Secara geografis Kampus IPB Darmaga terletak antara 6⁰30”
sampai 6⁰45” LS dan 106⁰30”
sampai 106⁰ 45” BT. Terletak di Jalan Raya Darmaga,
12 km dari Kotamadya Bogor. Secara administrasi termasuk dalam wilayah Desa
Babakan, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Iklim kawasan termasuk
iklim hujan tropik. Temperatur rata-rata tahunan sebesar 25.7⁰C,
curah hujan rata – rata adalah 340,3 mm. Jenis tanah adalah Latosol. Topografi
kawasan terbagi dalam 4 kelas kemiringan dengan perincian terhadap luas kawasan
kampus sebagai berikut: 0-5% sebanyak 41%, 5-15% sebanyak 37%, 15-25% se-banyak
17%, dan >25% sebanyak 5 %.
Kondisi jalur pengamatan yaitu berada di Pintu 2 Kanan
Kampus IPB Darmaga. Ada kondisi dengan vegetasi yang sangat rapat dan ada
kondisi dengan vegetasi terbuka. Vegetasi yang dominan yaitu bambu. Cukup
banyak kegiatan manusia di tempat tersebut salah satunya yaitu pejalan kaki
yang sering berlalu-lalang.
Bahas
Data
Data
yang diperoleh berdasarkan pengamatan diolah dan menujukkan hasil berupa indeks
kekayaan, kelimpahan, indeks keenekaragaman, kemerataan dan dominansi jenis.
Indeks kekayaan jenis herpetofauna di lokasi pengamatan yaitu 2.0852. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa jenis herpetofauna di lokasi pengamatan cukup
beragam.
Kelimpahan
pada jenis herpetofauna di lokasi pengamatan menunjukkan kelimpahan terbesar
pada jenis Takydromus sexlineatus yaitu
0.3636. Jenis tersebut ditemukan dengan jumlah 4 individu dan dalam SVL yang
berbeda pada rentang 2,3 sampai 4 cm. Substrat ditemukannya jenis ini berupa
rumput dan daun diketinggian 0,3 sampai 0,6 m dengan aktivitas sedang diam dan
makan. Jenis Duttaphrynus melanostictus
dan Bronchocela jubata diperoleh
dengan kelimpahan yang sama sebesar 0,1818 dan jumlah sebanyak 2 individu.
Jenis Duttaphrynus melanostictus ditemukan
di atas rumput dan serasah dengan aktivitas melompat. Jenis tersebut memiliki
ukuran berat yang cukup jauh berbeda yaitu 60 gram dan 9,5 gram dengan SVL 10
cm dan 3,5 cm. Kondisi tersebut menunjukkan jenis tersebut ditemukan masih
anakan dan dewasa. Jenis Bronchocela
jubata ditemukan pada ranting pohon dan daun dengan aktivitas diam dan ukuran
berat serta SVL yang relatif sama. Jenis lain yang ditemukan pada pengamatan
yaitu Cosymbutus platyurus, Ular picung dan Phrynoidis aspera menunjukkan
kelimpahan yang rendah yaitu 0,0909 dengan hanya ditemukannya satu individu per
jenis.
Indeks
keanekaragaman hasil pengamatan menunjukkan nilai 1,6417. Nilai tersebut
menunjukkan keanekaragaman jenis herpetofauna di lokasi pengamatan masuk dalam
kriteria sedang berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman menurut Odum (1993)
yaitu pada rentang 1-3. Menurut Campbell (2004) menyebutkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi keanekaragaman jenis suatu komunitas alamiah diantaranya
ketersediaan energi, spesialisasi relung, iklim, interaksi populasi, dan
kemampuan reproduksi. Nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh tersebut
menunjukkan bahwa lokasi pengamatan memiliki vegetasi yang cukup sesuai
sehingga herpetofauna yang dapat ditemukan di lokasi cukup beragam dan dapat
beradaptasi dengan lingkungan dengan cukup baik.
Kemerataan
di lokasi pengamatan diperoleh nilai 0.9163. Nilai tersebut menujukkan tingkat
kemerataan herpetofauna di lokasi pengamatan cukup tinggi karena mendekati
nilai satu. Santosa (1995) menjelaskan bahwa konsep kemerataan menunjukkan
derajat kemerataan kelimpahan individu antar spesies. Konsep ini dapat
digunakan sebagai indikator adanya gejala dominasi diantara setiap jenis dalam
suatu komunitas. Apabila setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama, maka
komunitas tersebut mempunyai nilai kemerataan maksimum. Berdasarkan hasil yang
diperoleh tidak setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama, terdapat 3
jenis yang memiliki jumlah individu yang sama yaitu 1 individu, 2 jenis
individu yang memiliki jumlah individu masing-masing 2 dan 1 jenis individu
yang memiliki jumlah 4 individu. Jumlah tersebut menunjukkan nilai kemerataan
tidak maksimum dan terdapat jenis yang mendominasi di lokasi pengamatan yaitu
jenis Takydromus sexlineatus. Jenis
tersebut mencapai nilai dominansi 36,364 %, sedangkan jenis lain berturut-turut
dengan jumlah individu 2 jenis memiliki dominansi 18,182 % dan jenis dengan
jumlah 1 individu memiliki dominansi paling kecil yaitu 9.091 % .
Hasil yang diperoleh berdasarkan penggunaan metode VES
dan time search menunjukkan data yang
cukup baik karena dapat diperoleh hasil pengolahan data yang cukup lengkap
terkait indeks
kelimpahan, indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi jenis
herpetofauna. Penggunaan metode ini memberikan kesempatan terhadap setiap
spesies untuk diamati, dapat diketahui habitat yang disukai tiap spesies dengan
kriteria berat badan dan umur spesies (Tajalli 2001). Waktu selama dua jam juga
memungkinkan ditemukannya jenis herpetofauna yang cukup untuk mewakili lokasi
pengamatan dengan pengamatan yang juga dilakukan oleh jumlah pengamat yang
cukup banyak yaitu lima orang.
KESIMPULAN
Pengamatan herpetofauna dilakukan di
Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga Bogor selama dua jam dengan menggunakan metode
Visual Encounter Survey (VES) yang
dikombinasikan dengan metode time search.
Jumlah herpetofauna yang didapat sebanyak enam jenis dengan rincian 4 jenis
reptil dan 2 jenis amfibi. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui indeks
keragaman Shannon-Wiener (H’) sebesar 1.641735, yang menunjukkan bahwa lokasi
tersebut memiliki tingkat keragaman jenis herpetofauna yang sedang. Selain
indeks keragaman
Shannon-Wiener,
diketahui juga indeks kemerataan Evennes (E) sebesar 0.92, yang menunjukkan
bahwa persebaran jenis herpetofauna yang didapat cukup merata.
DAFTAR PUSTAKA
Brower JE, Zar JH. 1997. Field and Laboratory Methods for General Ecology. Lowa: Brown.
Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG.
2004. Biologi Edisi Kelima (Terjemahan). Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RW, hayer LC and
Foster MS. 1994. Measuring and monitoring
Biological Diversity: Standard Methods for Amphibians. Smithsonian
Institution Oress. Washington.
Odum EP. 1993. Dasar-dasar
Ekologi (Edisi Ketiga). Yogyakarta (ID): University Gadjah
Mada
Pr.
Santosa Y. 1995. Teknuik Pengukuran Keanekaragaman Satwaliar. Bogor:
Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian
Bogor. Tidak dipublikasikan.
Tajalli A. 2001. Keanekaragaman
jenis reptil di kawasan lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur. [Skripsi].
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Depatemen Kehutanan.
Iinstitut Pertanian Bogor.
Uetz P, Hallemann J. The Reptil Database. http://www.reptile-database.org/.
[Diakses 14 Desember 2014]