Sabtu, 21 Februari 2015

KEANEKARAGAMAN JENIS HERPETOFAUNA DI PINTU 2 KANAN KAMPUS IPB DARMAGA



KEANEKARAGAMAN JENIS HERPETOFAUNA DI PINTU 2 KANAN KAMPUS IPB DARMAGA
Oleh :
Achmad Fajar P1 (E34120091), Maedyta Annafiandini2  (E34120061), Fitri Kusriyanti3 (E34120075), Hidayatul Munawaroh4 (E34120080), dan Dian Widi Hasta5 (E34120081)
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata-Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT
Research on the distribution and diversity of herpetofauna in Bogor Agricultural University needs to be done. This relates to developed of biodiversity conservation program in Bogor Agricultural University. The objective of the research was to analyzed the distribution and diversity of herpetofauna in Bogor Agricultural University. The study was conducted in December 10th 2014. The data of herpetofauna were collected by Visual Encounter Survey (VES) who combined with Time Search method. Time of observation made in the night time (06.30 – 08.30 pm). Data were analyzed using Shannon-Wiener Diversity Index (H’) for species diversity and Index of Equitability or Evenness Simpsons (E) to determine to proportion of the abundance species. The result showed that 6 species of herpetofauna were found in Bogor Agricultural University. The Diversity Index was (H’= 1.641735), and Eveness Index was (E = 0.92). The most of species that found are Takydromus sexlineatus.

Keywords         : Bogor Agricultural University, distribution, diversity, herpetofauna.



PENDAHULUAN
            Satwa merupakan satu komponen penting dalam kehidupan. Hal tersebut dapat terlihat dari manfaat yang diberikan satwa secara langsung maupun tidak langsung. Kampus IPB memiliki keanekaragaman satwaliar yang tinggi. Di areal kampus IPB paling tidak terdapat 12 jenis mamalia, 86 jenis burung, 37 jenis reptilia dan 4 jenis ikan (Hernowo et al. 1991). Keanekaragaman jenis adalah banyaknya spesies satwa yang menempati suatu ekosistem baik di darat maupun di perairan yang saling mempengaruhi. Pengamatan satwa merupakan bagian dari kegiatan untuk inventarisasi satwa. Inventarisasi satwa adalah kegiatan untuk mengetahui populasi jenis satwa dan habitatnya. Metode yang dapat digunakan dalam kegiatan inventarisasi satwa kali ini yaitu metode VES. Metode Visual Encounter Survey (VES), yaitu pengambilan jenis satwa berdasarkan penglihatan langsung pada jalur yang telah ditentukan (Heyer et al. 1994). Tujuan dari pengamatan ini adalah agar dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik inventarisasi dengan menggunakan metode VES, untuk menentukan ukuran populasi satwa berdasarkan metode tersebut serta dengan mempraktekkan metode tersebut diharapkan dapat mengetahui keefektifan penerapan metode-metode tersebut dalam kegiatan inventarisasi satwaliar.


METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu
Lokasi pengamatan dilakukan di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Pengamatan dilakukan pada tanggal 10 Desember 2014. Waktu pengamatan dilakukan pada malam hari pukul 18.30 – 20.30 WIB.

Alat dan Bahan
Objek yang diamati adalah berbagai jenis herpetofauna di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Alat-alat yang digunakan pada pengamatan ini antara lain adalah tally sheet, alat tulis, plastik spesimen, alat pengukur waktu, meteran, pesola, fieldguide, dan kamera.

Metode
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Visual Encounter Survey (VES) yaitu pengambilan jenis satwa berdasarkan perjumpaan langsung pada jalur baik di daerah terrestrial maupun akuatik (Heyer et al. 1994). Metode VES ini dimodifikasi dengan metode time search. Pengamatan dilakukan selama dua jam. Time search merupakan suatu metode pengambilan data dengan waktu penuh yang lamanya waktu telah ditentukan sebelumnya dengan waktu untuk mencatat satwa tidak dihitung. Pengamatan dilakukan di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Pengamatan dilakukan pada malam hari pada pukul 18.30 – 20.30 WIB serta dilakukan dengan berjalan pada lokasi yang telah ditentukan. Pengambilan data herpetofauna dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
a.         Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada malam hari pukul 18.30 – 20.30 WIB. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan penerangan berupa cahaya senter atau headlamp yang diarahkan pada lokasi – lokasi yang memungkinkan ditemukannya reptil dan amfibi seperti di batang pohon, lubang, kayu lapuk, serasah, dan semak. Individu yang diamati kemudian ditangkap dan dimasukkan dalam plastik berlabel. Beberapa jenis reptil atau amfibi ditangkap untuk kebutuhan identifikasi dan dicatat ciri – ciri morfologinya.
b.        Dokumentasi dan identifikasi spesimen
Data yang dicatat pada saat pengamatan reptil atau amfibi adalah waktu, substrat, posisi, dan aktivitasnya. Dokumentasi berupa gambar diambil dengan kamera baik saat ditemukan ataupun setelah diidentifikasi. Data yang dicatat saat identifikasi adalah nama jenis, lokasi, dan informasi lain. Nama jenis dapat diketahui dengan menggunakan kunci identifikasi dan bila belum ditemukan atau untuk meyakinkan foto – foto detail reptil atau amfibi dicocokan kembali dengan fieldguide (Uetz dkk. 2012).

Analisis Data
Komposisi reptil atau amfibi di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga dianalisis dengan dua parameter, yaitu :
1.        Keanekaragaman Jenis
Jenis yang ditemukan kemudian ditentukan Indeks Keanekaragaman Jenis dengan menggunakan Indeks Shannon-Wiener (Brower & Zar 1997), yaitu :

                  H’ = -∑ Pi Ln Pi
Keterangan :
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon- Wiener
P  = Proporsi jenis ke-i (diperoleh dari jumlah individu jenis ke-I dibagi jumlah seluruh individu yang diperoleh disuatu lokasi)
Variabel tersebut dapat digunakan dengan kriteria sebagai berikut :
H’ < 1              = Menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang rendah.
1 < H’ < 3        = Menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang.
H’ > 3              = Menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi.
Nilai yang diperoleh kemudian akan digunakan untuk membandingkan keanekaragamn jenis berdasarkan habitat.
2.        Kemerataan Jenis.
Derajat kemerataan jenis pada suatu lokasi dianalisis dengan Indeks Kemerataan Jenis. Persamaan yang digunakan untuk menghitung Indeks Kemerataan Jenis (Brower & Zar 1997), yaitu :

                  E = H’/Ln S
Keterangan :
E          = Indeks Kemerataan Jenis
H’        = Indeks Keanekaragaman Shannon- Wiener
S          = Jumlah jenis yang ditemukan
              
HASIL
Komposisi jenis, keanekaragaman, dan kemerataan jenis reptil dan amfibi
            Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan reptil sebanyak delapan ekor dan amfibi sebanyak tiga ekor. Jenis reptil yang ditemukan yaitu, Cosymbotus platyurus (1 ekor), Brochocela jubata (2 ekor), Takydromus sexlineatus (4 ekor), dan Rhabdophis subminatus (1 ekor). Sedangkan untuk jenis amfibi yang ditemukan yaitu, Duttaphrynus melanostictus (2 ekor) dan Phrynoidis aspera (1 ekor) (Gambar 1).


Gambar 1. Grafik rekapitulasi hasil inventarisasi herpetofauna di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga.

                Hasil perhitungan indeks keanekaragaman herpetofauna di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga dengan analisis Shannon-Wiener didapatkan sebesar H’ = 1.641735 dan untuk perhitungan indeks kemerataan Evenness didapatkan sebesar E = 0.92.
            Masing – masing jenis reptil dan amfibi menyukai substrat yang berbeda untuk melakukan aktivitasnya, Gambar 2. menunjukkan jenis substrat yang banyak digunakan jenis reptil dan amfibi. Persentase terbesar yaitu pada serasah sebesar 28%. Serasah dan tanah sering digunakan oleh jenis – jenis reptil dan amfibi yang tergolong terrestrial. Persentase penggunaan substrat terkecil yaitu pada tumbuhan bawah sebesar 9%.

Gambar 2. Grafik perserntase penggunaan substrat oleh reptil dan amfibi pada saat perjumpaan.
               
                Aktivitas reptil dan amfibi pada perjumpaan yaitu terdiri dari diam, melompat, makan, dan merayap. Aktivitas yang banyak terlihat adalah diam yaitu sebesar 55%. Aktivitas diam ini banyak ditemukan pada jenis reptil seperti Takydromus sexlineatus dan Bronchocela jubata. Aktivitas paling sedikit ditemukan adalah makan dan merayap yaitu sebesar 9%, hanya ditemukan pada jenis reptil seperti Cosymbotus platyurus dan Takydromus sexlineatus (Gambar 3).

Gambar 3. Grafik persentase aktivitas herpetofauna pada saat perjumpaan.

Jenis Takydromus sexlineatus menunjukkan nilai kelimpahan paling tinggi yaitu 0,3636 dengan dominansi tertinggi 36,3636. (Tabel 1).





Tabel 1 Kelimpahan dan Dominansi jenis herpetofauna di Sisi Kanan Pintu II IPB.

PEMBAHASAN
Kondisi Umum
No
Nama Jenis
Jumlah Individu
Pi
D (%)
1
Duttaphrynus melanostictus
2
0.181818
18.18182
2
Cosymbutus platyurus
1
0.090909
9.090909
3
Bronchocela jubata
2
0.181818
18.18182
4
Takydromus sexlineatus
4
0.363636
36.36364
5
Ular picung
1
0.090909
9.090909
6
Phrynoidis aspera
1
0.090909
9.090909

Total
11


Kampus IPB Darmaga yang memiliki luas wilayah 267 Ha, terdapat beberapa jenis satwa liar yang tersebar hampir di seluruh wilayah kampus, di antaranya dari jenis – jenis burung, mamalia, reptil, dan amfibi. Kampus IPB saat ini sedang berada dalam tahap pembangunan dan pengembangan, terutama terhadap sarana fisiknya. Kegiatan tersebut akan menimbulkan perubahan lingkungan fisik maupun biotik. Menurut Hernowo (1985), perubahan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup satwa liar yang terdapat di Kampus IPB. Secara geografis Kampus IPB Darmaga terletak antara 6⁰30” sampai 6⁰45” LS dan 106⁰30” sampai 106⁰ 45” BT. Terletak di Jalan Raya Darmaga, 12 km dari Kotamadya Bogor. Secara administrasi termasuk dalam wilayah Desa Babakan, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Iklim kawasan termasuk iklim hujan tropik. Temperatur rata-rata tahunan sebesar 25.7⁰C, curah hujan rata – rata adalah 340,3 mm. Jenis tanah adalah Latosol. Topografi kawasan terbagi dalam 4 kelas kemiringan dengan perincian terhadap luas kawasan kampus sebagai berikut: 0-5% sebanyak 41%, 5-15% sebanyak 37%, 15-25% se-banyak 17%, dan >25% sebanyak 5 %.
Kondisi jalur pengamatan yaitu berada di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga. Ada kondisi dengan vegetasi yang sangat rapat dan ada kondisi dengan vegetasi terbuka. Vegetasi yang dominan yaitu bambu. Cukup banyak kegiatan manusia di tempat tersebut salah satunya yaitu pejalan kaki yang sering berlalu-lalang.
Bahas Data
Data yang diperoleh berdasarkan pengamatan diolah dan menujukkan hasil berupa indeks kekayaan, kelimpahan, indeks keenekaragaman, kemerataan dan dominansi jenis. Indeks kekayaan jenis herpetofauna di lokasi pengamatan yaitu 2.0852. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jenis herpetofauna di lokasi pengamatan cukup beragam.
Kelimpahan pada jenis herpetofauna di lokasi pengamatan menunjukkan kelimpahan terbesar pada jenis Takydromus sexlineatus yaitu 0.3636. Jenis tersebut ditemukan dengan jumlah 4 individu dan dalam SVL yang berbeda pada rentang 2,3 sampai 4 cm. Substrat ditemukannya jenis ini berupa rumput dan daun diketinggian 0,3 sampai 0,6 m dengan aktivitas sedang diam dan makan. Jenis Duttaphrynus melanostictus dan Bronchocela jubata diperoleh dengan kelimpahan yang sama sebesar 0,1818 dan jumlah sebanyak 2 individu. Jenis Duttaphrynus melanostictus ditemukan di atas rumput dan serasah dengan aktivitas melompat. Jenis tersebut memiliki ukuran berat yang cukup jauh berbeda yaitu 60 gram dan 9,5 gram dengan SVL 10 cm dan 3,5 cm. Kondisi tersebut menunjukkan jenis tersebut ditemukan masih anakan dan dewasa. Jenis Bronchocela jubata ditemukan pada ranting pohon dan daun dengan aktivitas diam dan ukuran berat serta SVL yang relatif sama. Jenis lain yang ditemukan pada pengamatan yaitu Cosymbutus platyurus, Ular picung dan Phrynoidis aspera menunjukkan kelimpahan yang rendah yaitu 0,0909 dengan hanya ditemukannya satu individu per jenis.
Indeks keanekaragaman hasil pengamatan menunjukkan nilai 1,6417. Nilai tersebut menunjukkan keanekaragaman jenis herpetofauna di lokasi pengamatan masuk dalam kriteria sedang berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman menurut Odum (1993) yaitu pada rentang 1-3. Menurut Campbell (2004) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis suatu komunitas alamiah diantaranya ketersediaan energi, spesialisasi relung, iklim, interaksi populasi, dan kemampuan reproduksi. Nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa lokasi pengamatan memiliki vegetasi yang cukup sesuai sehingga herpetofauna yang dapat ditemukan di lokasi cukup beragam dan dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan cukup baik.
Kemerataan di lokasi pengamatan diperoleh nilai 0.9163. Nilai tersebut menujukkan tingkat kemerataan herpetofauna di lokasi pengamatan cukup tinggi karena mendekati nilai satu. Santosa (1995) menjelaskan bahwa konsep kemerataan menunjukkan derajat kemerataan kelimpahan individu antar spesies. Konsep ini dapat digunakan sebagai indikator adanya gejala dominasi diantara setiap jenis dalam suatu komunitas. Apabila setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama, maka komunitas tersebut mempunyai nilai kemerataan maksimum. Berdasarkan hasil yang diperoleh tidak setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama, terdapat 3 jenis yang memiliki jumlah individu yang sama yaitu 1 individu, 2 jenis individu yang memiliki jumlah individu masing-masing 2 dan 1 jenis individu yang memiliki jumlah 4 individu. Jumlah tersebut menunjukkan nilai kemerataan tidak maksimum dan terdapat jenis yang mendominasi di lokasi pengamatan yaitu jenis Takydromus sexlineatus. Jenis tersebut mencapai nilai dominansi 36,364 %, sedangkan jenis lain berturut-turut dengan jumlah individu 2 jenis memiliki dominansi 18,182 % dan jenis dengan jumlah 1 individu memiliki dominansi paling kecil yaitu 9.091 % .
Hasil yang diperoleh berdasarkan penggunaan metode VES dan time search menunjukkan data yang cukup baik karena dapat diperoleh hasil pengolahan data yang cukup lengkap terkait indeks kelimpahan, indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi jenis herpetofauna. Penggunaan metode ini memberikan kesempatan terhadap setiap spesies untuk diamati, dapat diketahui habitat yang disukai tiap spesies dengan kriteria berat badan dan umur spesies (Tajalli 2001). Waktu selama dua jam juga memungkinkan ditemukannya jenis herpetofauna yang cukup untuk mewakili lokasi pengamatan dengan pengamatan yang juga dilakukan oleh jumlah pengamat yang cukup banyak yaitu lima orang.

KESIMPULAN
            Pengamatan herpetofauna dilakukan di Pintu 2 Kanan Kampus IPB Darmaga Bogor selama dua jam dengan menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES) yang dikombinasikan dengan metode time search. Jumlah herpetofauna yang didapat sebanyak enam jenis dengan rincian 4 jenis reptil dan 2 jenis amfibi. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui indeks keragaman Shannon-Wiener (H’) sebesar 1.641735, yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki tingkat keragaman jenis herpetofauna yang sedang. Selain indeks keragaman


Shannon-Wiener, diketahui juga indeks kemerataan Evennes (E) sebesar 0.92, yang menunjukkan bahwa persebaran jenis herpetofauna yang didapat cukup merata.
           

DAFTAR PUSTAKA

Brower JE, Zar JH. 1997. Field and Laboratory Methods for General Ecology. Lowa: Brown.
Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. 2004. Biologi Edisi Kelima (Terjemahan). Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RW, hayer LC and Foster MS. 1994. Measuring and monitoring Biological Diversity: Standard Methods for Amphibians. Smithsonian Institution Oress. Washington.
Odum EP. 1993. Dasar-dasar Ekologi (Edisi Ketiga). Yogyakarta (ID): University Gadjah
Mada Pr.
Santosa Y. 1995. Teknuik Pengukuran Keanekaragaman Satwaliar. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Tajalli A. 2001. Keanekaragaman jenis reptil di kawasan lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur. [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Depatemen Kehutanan. Iinstitut Pertanian Bogor.
Uetz P, Hallemann J. The Reptil Database. http://www.reptile-database.org/. [Diakses 14 Desember 2014]